Hasil Survey Pra Pemilukada Jakarta Putaran Pertama

April 6, 2013   admin     Category: Press Release .

PRESS RELEASE

HASIL SURVEY ASPIRASI WARGA TENTANG PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012 DAN MASALAH KOTA JAKARTA
“Satu Bulan Jelang Hari Pencoblosan:
Jangan Sampai Pemilukada DKI Jakarta ‘Antiklimaks’!”
PUSAT KAJIAN POLITIK, FISIP UNVERSITAS INDONESIA
(PUSKAPOL UI)
11 JUNI 2012

Download Hasil Survei dalam PDF

Pada 11 Juli mendatang, warga DKI Jakarta yang telah terdaftar sebagai pemilih akan mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menentukan pilihan mereka.  Keenam pasangan calon peserta Pemilukada telah diumumkan KPU DKI Jakarta dan telah memilih nomor urut.  Di beberapa tempat strategis telah terpasang baliho dari KPUD agar warga Jakarta mengenali para pasangan calon sembari mengingatkan jadwal kampanye pada 24 Juni hingga 8 Juli 2012.   Namun tampaknya ‘keriaan’ kota Jakarta menyambut proses demokrasi tiap lima tahunan tersebut masih belum (terlalu) terasa.  Apakah Pemilukada DKI Jakarta akan ‘antiklimaks’?

Pusat Kajian Politik (PUSKAPOL UI) pada 24 Mei hingga 4 Juni 2012 lalu mengadakan survey tatap muka untuk mengetahui aspirasi warga Jakarta seputar tahapan Pemilukada dan masalah-masalah kota Jakarta.  Survey dilakukan di lima wilayah ibukota (kecuali Kep. Seribu), dengan responden sebanyak 594 orang.  Sampel ditarik dengan teknik Multistage stratified random sampling.  Dengan memperhitungkan populasi pemilih DKI Jakarta adalah 6.983.692 orang, maka margin kesalahan survey ini berada pada kisaran 4%.

HASIL SURVEY

Survey ini memotret beberapa kecenderungan dan masalah terkait persepsi pemilih terhadap proses Pemilukada DKI 2012.  Masalah –masalah yang berhasil ditemukan dari survey secara garis besar terdiri dari:

1.      Masalah Lemahnya Pengaruh Sosialisasi Pemilukada di Kalangan Pemilih. Mencerminkan masih lemah pula kinerja KPUD mengoptimalkan sosialisasi kepada pemilih. Warga pemilih di DKI Jakarta tampaknya pasif mengakses informasi terkait tahapan, peserta, dan jadwal Pemilukada.

  • Masih sangat besar prosentase yang tidak mengetahui secara tepat jadwal pelaksanaan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (57,9%).
  • Sumber informasi dalam sosialisasi pelaksanaan pemilukada terbesar berasal dari Televisi (52,8%), namun tidak cukup banyak sosialisasi KPUD tentang proses dan tahapan Pemilukada dalam bentuk iklan layanan masyarakat.
  • Hanya seperempat (25% responden) yang mendapat informasi dari Baliho/Spanduk KPUD.  Masih sedikit yang mengkonsumsi informasi terkait Pemilukada melalui media lain baik Brosur (18,3%) Koran (17%), Internet (3,1%), dan majalah (1,5%).
  • Cukup besar prosentase (64%) yang belum tahu pengumuman pasangan peserta pemilukada. Sementara itu 65% tidak tepat mengetahui jumlah pasangan calon.

2.      Masalah Terkait Pendaftaran Pemilih yang Belum Informatif Bagi Pemilih. Masih cukup signifikan pemilih yang merasa belum terdaftar atau belum tahu apakah sudah terdaftar atau belum terdaftar.  Sementara warga pun tidak terlalu antusias mencari informasi terkait status apakah sudah terdaftar.

  •  Daftar Pemilih telah diumumkan KPUD tetapi masih lebih dari setengah yang mengaku (57%) belum tahu informasi tersebut.
  •  Mayoritas (80%) mengaku tahu sudah terdaftar, tapi masih ada sebagian (12,4%) yang tidak tahu sudah terdaftar atau belum.
  •  Dari mereka yang mengaku belum terdaftar, hanya sejumlah 45% yang ingin mengurus agar terdaftar sebagai pemilih.  Sementara dari mereka yang belum tahu apakah sudah terdaftar,  sebagian besar (59%) ingin memastikan kembali apakah sudah terdaftar.

3.      Masalah Terkait Potensi Kecurangan di Pemilukada. Persepsi warga cenderung skeptis dengan praktek pemberian imbalan yang diakui sebagai realitas dari pengalaman pemilu-pemilu terdahulu.

  • Cukup kuat persepsi  sebagian besar (55%) yang cenderung pesimis Pemilukada ini akan minim kecurangan dan korupsi.
  • Bahkan sejumlah signifikan (40,7% responden) yakin akan ada praktek pembagian imbalan untuk memilih para kandidat menjelang hari pemilihan.

4.      Masalah Antusiasme dan Optimisme Warga terhadap Dampak Positif Pemilukada dan Hasil-hasilnya.   Harapan yang antusias dari warga sangat diharapkan untuk mengawal proses pemilukada ini dan mendorong kualitas demokrasi di DKI Jakarta selama pemilukada hingga masa paska pemilihan. Potret Antusiasme yang ditemukan dalam survey ini terkait dengan;

  • Tidak besarnya optimisme responden (39,3%) bahwa pemilukada 2012 ini akan membawa perubahan kondisi yang lebih baik bagi kehidupan mereka.
  • Sangat besar ketidakpercayaan warga terhadap janji/program kampanye kandidat (61,5% tidak yakin) bila dibandingkan hanya sebagian (26,3%) yang optimis janji/program kandidat akan membawa hasil perubahan kondisi warga.
  • Kurang dari separuh (40% responden) yang yakin adanya banyak kandidat akan mendorong kompetisi yang mungkin menghasilkan keadaan lebih baik.
  • Kapasitas KPUD cukup dipercaya membantu hasil pemilukada yang baik menurut mayoritas warga (42,5%) Masalahnya cukup besar juga prosentase mereka yang tidak tahu soal kemampuan KPUD (23,6%). Kondisi serupa tercermin pada persepsi atas Panwaslu yang diyakini oleh sebagian besar (45,1% responden) akan mempengaruhi hasil pemilukada yang baik. Tapi juga cukup besar yang tidak tahu soal Panwaslu (24,5%)

5.      Hasil pemilukada yang lebih baik diyakini terutama berasal dari antusiasme masyarakat terlibat dalam pemilukada. Namun opini tentang arti penting sikap antusias ternyata tidak otomatis dapat menggerakkan partisipasi aktif warga dalam proses Pemilukada kali ini.

  • Partisipasi pada hari pencoblosan diharapkan tinggi, bila didasari temuan hampir seluruhnya (94,5%) pemilih bersedia datang ke TPS pada hari pemilihan.
  • Akan tetapi bentuk partisipasi sebelum hari pemilihan masih mengkhawatirkan.  Mayoritas warga bersikap “biasa saja” (43,4%) untuk mengikuti berbagai informasi tentang tahapan Pemilukada. Prosentase yang besar ini tambah mengkhawatirkan bila digabungkan dengan 20,1% yang tidak tertarik dan 0,7% yang sangat tidak tertarik. Hanya sebagian kecil (4,5%) yang sangat tertarik.
  • Mayoritas warga menyatakan tidak akan terlibat (74,8%) dalam kegiatan para pasangan calon di masa kampanye yang dimulai 24 Juni.

6.      Masalah “Pemilih Cerdas”: Potret Warga dan Kecenderungan Pilihan terhadap Pasangan Calon.  Antusiasme yang cenderung rendah terhadap janji/program pasangan calon dan juga rendahnya keinginan berpartisipasi dalam tahapan kampanye mencerminkan pasifnya warga DKI merespon kontestasi pemilihan kepala daerahnya. Tampaknya ini terkait bagaimana kandidat dikenali oleh warga.

  • Tinggal sebulan lagi pemilihan dilaksanakan, mayoritas mengaku belum memutuskan siapa pilihan mereka (42,7%) dan bahkan sebagian (8,2% responden) menganggap semua pasangan calon tidak mampu mengatasi permasalahan DKI Jakarta.
  • Kebingungan warga tercermin dari fakta yang di satu sisi mayoritas warga (66,9%) mengaku program kandidat sebagai pertimbangan mereka memilih Gubernur DKI.  Dari mereka yang mengaku akan memilih ternyata sebagain besar (73,6% responden) menetapkan faktor-faktor non program sebagai patokan menentukan pilihan politik. Lebih jauh lagi ketika diukur pada mereka yang sudah tahu dan menetapkan pilihan, pertimbangan pemilih umumnya (66.9%) bukan karena program si pasangan calon tersebut.
  • Responden yang menganggap ada pasangan calon yang memiliki kemampuan mengatasi permasalahan DKI baru sebagian atau kurang dari separuh (45,7%) dari total responden. Dimana sebulan sebelum pemilukada ternyata calon yang dianggap mampu untuk memimpin Jakarta masih memiliki perbedaan persentase yang saling terkait ketat di antara beberapa pasangan calon (temuan preferensi responden terhadap pasangan yang dianggap mampu mengatasi masalah DKI, bukan berdasar nomor urut: 19,6%-16,1%-4,7%-3,2%-1,8%-0,3%).
  • Kondisi pemilih yang mayoritas belum menentukan pilihan tampaknya terkait erat dengan kuatnya hubungan antara mereka yang belum tahu siapa yang dipilih dengan tidak yakinnya pemilu akan berlangsung jujur dan adil (52%). Bahkan di antara mereka yang menganggap ada kandidat yang mampu ternyata sebagian besar (54% responden) pun tidak yakin pemilu akan berlangsung jujur, adil, dan tanpa korupsi.

7.      Masalah Program-Solusi dari Warga.  Sebagai kelanjutan dari jajak pendapat terdahulu, semakin diketahui bahwa Warga DKI Jakarta mengetahui masalah yang mereka anggap sebagai prioritas dan juga solusi apa yang harus diterapkan. Secara umum pola masalah dan solusi yang diajukan warga menunjukkan keperluan peran pemerintah hasil Pemilukada yang lebih kuat melakukan perlindungan sosial dan penataan, dan intervensi memperkuat kepentingan publik yang sudah menjadi masalah kronis – seperti kemacetan dan banjir.  Lima Masalah dan solusi prioritas menurut responden:

  • Kemacetan,  dengan solusi: Pembatasan kendaraan; Penambahan transportasi umum; Pembangunan sarana jalan.
  • Kesejahteraan, dengan solusi:  Pembukaan lapangan kerja; Pengaturan subsidi/Pengaturan harga sembako; Jaminan kesehatan.
  • Banjir, dengan solusi:  Pembersihan sungai dan saluran air; Perbaikan tata kota; Pengelolaan sampah yang lebih baik.
  • Ketenagakerjaan, dengan solusi:  Pembukaan lapangan kerja; Menaikkan upah; Perlindungan terhadap pedagang kecil.
  • Pendidikan dan Kesehatan:  Bantuan pendidikan dan sekolah gratis; jaminan kesehatan dan pengobatan gratis.

REKOMENDASI

Peningkatan Kualitas Pemilukada DKI 2012 semakin mendesak dan memerlukan partisipasi intensif dari 3 unsur yang vital dalam Pemilukada: Masyarakat – Penyelenggara dan Pengawas Pemilukada – Para Pasangan Calon.

1.  Warga DKI Jakarta yang sadar akan berat dan kompleksnya masalah kotanya masih terlalu PASIF untuk mendorong pemilukada yang lebih membangkitkan harapan hasil perubahan kondisi DKI Jakarta yang lebih baik. Masyarakat dalam artian lebih luas, termasuk media massa, harus lebih berupaya keras mendorong warga mengenali pilihan program dan kandidat di sisa waktu menjelang hari pelaksanaan pemilihan.

2. Penyelenggara, khususnya KPUD, harus meningkatkan kinerja sosialisasi Pemilukada kepada warga. Masih besarnya warga yang tidak mengetahui dengan baik jadwal dan tahapan pemilukada dapat berakibat pada partisipasi yang rendah walaupun bermodalkan antusiasme yang besar di kalangan warga secara umum. Pengawasan pemilukada juga harus ditingkatkan karena mayoritas warga yakin mereka akan melihat money politics (pemberian imbalan untuk memilih kandidat tertentu di hari pemilihan).

3. Para pasangan calon harus mengoptimalkan perjuangan mereka untuk memperjuangkan DKI Jakarta yang lebih baik dengan berupaya lebih keras lagi mendekatkan warga dengan program-program dan masalah-masalah yang dirasakan warga. Besarya prosentase pemilih yang belum menentukan pilihannya adalah sinyalemen warga kesulitan memilih secara cerdas Gubernur yang mereka yakini dapat memecahkan berbagai masalah kota Jakarta.

TIM PENELITI PUSKAPOL UI:

Sri Budi Eko Wardani (0813-17131451),
Irwansyah (0812-19443307),
Dirga Ardiansa (0812-9940351)

Terbaru

PILKADA PAPUA 2018

  NO PASANGAN CALON SUARA PARTAI PENDUKUNG 1 LUKAS ENEMBE.S.IP, MH KLEMEN TINAL, SE.,MM 1.939.539 67.54% DEMOKRAT, GOLKAR, NASDEM,... more ...

PILKADA MALUKU 2018

NO PASANGAN CALON SUARA PARTAI PENDUKUNG 1 Ir. SAID ASSAGAFF Ir. ANDERIAS RENTANUBUN 251.036 31.16% GOLKAR, PKS, DEMOKRAT 2... more ...