Puskapol UI: Kerja DPR-DPD Periode 2019 Tak Akan Alami Perubahan Besar

May 27, 2019   puskapol ui     Category: Puskapol dalam Media .

Jakarta – Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia memprediksi hasil Pileg 2019 tidak akan memberikan perubahan besar, terutama untuk DPR dan DPD. Sebab, terpilihnya para anggota legislatif di pemilu kali ini dinilai masih dipengaruhi kekuatan ekonomi dan oligarki politik.

“Kami merasa bahwa kinerja anggota DPR dan DPD RI dalam periode berikutnya (2019-2024) tidak akan mengalami perubahan besar. Salah satu penyebab pentingnya adalah kehadiran mereka nanti tentu sangat dibengaruhi oleh kekuatan ekonomi dan politik lokal (oligarki dan elite lainnya) yang berkelindan dalam aktivitas parlemen mereka,” kata Direktur Puskapol UI Aditya Perdana, di Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (26/5/2019).

Baca juga: Pemilu 2019 dan Ujian Integritas Penyelenggara

Buktinya, kata Aditya, 53% caleg perempuan DPR terpilih adalah mereka yang merupakan elite politik di partai sebagai pengurus atau yang berpengalaman dalam kontestasi pemilu. Sementara 41% lainnya adalah mereka yang memiliki hubungan kekerabatan politik.

“Sebanyak 53 persen caleg terpilih perempuan memiliki latar belakang aktivis partai politik. Mereka adalah pengurus partai ataupun orang yang sudah punya pengalaman panjang dalam kompetisi pemilu. Hanya sekitar 41 persen diindikasikan dan memiliki afiliasi dengan kekerabatan politik seperti keluarga, dinasti ataupun klan,” paparnya.

Baca juga: Makna Positif di Balik Aksi Jokowi-JK ‘Bertukar’ Pakaian Adat

Sama halnya dengan kursi DPR, para calon DPD terpilih pun didukung mereka yang berlatar belakang sebagai orang berpengaruh di daerahnya. Salah satunya adalah mereka yang pernah menjadi pejabat daerah yang kemudian memilih untuk bertarung di Pemilu 2019.

Menurut Aditya, selarasnya kriteria mereka yang lolos ke DPR dan DPD pada pemilu kali ini, tidak lain adalah untuk saling memperkuat afiliasi partai politik. Melalui afiliasi itu pula, para calon DPD dapat melakukan mobilisasi kontituennya.

“Apabila diperhatikan caleg DPD yang terpilih, latar belakang dan profil mereka pun juga tidak berbeda dengan caleg DPR yaitu mereka adalah orang “kuat” lokal dan mantan pejabat daerah yang lngin kembali bertarung di kompetisi pemilu. Untuk memperkuat itu, sebagian besar dari mereka tentu punya afiliasi partai politik dan memanfaatkan jejaring partai tersebut dalam mobilisasi dukungan pemilih,” ujar Aditya.

Baca juga: Koalisi Kawal RUU Pilkada Serukan 10 Hal Penolakan Pilkada Lewat DPRD

Menurut Adit, kondisi ini tercipta karena mahalnya biaya politik. Akhirnya, kata dia, mereka yang kemudian terpilih akan mencari cara mengembalikan modal politik yang telah dihabiskan selama proses pemilu.

“Masih kuatnya pengaruh biaya politik mahal yang ada di setiap caleg, maka akan mempertahankan mindset para anggota DPR terpilih nanti untuk melakukan tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme,” tegasnya.
(tsa/tsa)

Terbaru

POLITIK IDENTITAS DALAM KAMPANYE PEMILU 2019

POLITIK IDENTITAS DALAM KAMPANYE PEMILU 2019 Masa kampanye Pilpres 2019 seyogianya menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai... more ...

Caleg Laki-Laki dan Perempuan Potensial Terpilih 2019-2024

Caleg Perempuan Potensial Terpilih 2019-2024 Caleg Laki-Laki Potensial Terpilih 2019-2024 more ...